DARMA INTERNET

darmanet.wordpress.com

A Women Like You Februari 9, 2010

SORE itu beberapa Mahasiswa masih asyik nongkrong di parkiran kampus. Ada yang lagi ngegosip, ngomong serius, curhat, ada juga yang lagi ngebahas masalah bangsa tentang ideologi, politik, sosial, budaya, pertahanan, keamanan dan fashion. Jam setengah enam sore, Tejo ama pacar barunya, Surti, asik haha-hihi di kantin kampus.

Tejo udah ngabisin 10 bungkus camilan sedangkan Surti cuman bengong ngeliatin si Tejo, “Pesen apa lagi, Jo?” tanya Surti.

“Apapun makanannya minumnya tetep, Botol Teh Sosro” jawab Tejo singkat.

Surti adalah mahasiswi Fakultas Hukum semester 4. Pertama kali kenal Tejo pas ada demo di pengadilan negeri. Waktu itu Tejo terpesona dengan gaya Surti yang cool abis waktu bacain tuntutan. Kebetulan sekali Tejo yang hari itu datang ke pengadilan buat nebus SIM ama STNK nya yang ditahan gara-gara kena tilang dua minggu sebelumnya di pos polisi di depan Matahari.

Tejo, mahasiswa Fakultas Ekonomi semester 6 itu pun, yang kelewat PD nya, kenalan ama Surti. Singkatnya, sesudah bayar 30.000 ke calo di pengadilan, SIM ama STNK nya come back. Tejo dan Surti pun saling terpesona.

***

Dua bulan sudah tejo dan Surti jadian. Masa-masa indah ternyata nggak berlangsung lama. Memasuki bulan ketiga, bulan yang manis pun berakhir. Kayaknya dua bulan waktu yang lebih dari cukup bagi Surti. Senin kemarin, Surti mutusin Tejo tanpa sebab yang jelas. Dan tentu keputusan Surti nggak bisa diganggu gugat. Tejo pun cuman bisa mengenang sang bidadari lewat kepulan asap Gudang Garam filternya yang tinggal sebatang.

Disaat Tejo menikmati sendirinya, pernah terpikir untuk gantung diri di bawah pohon tomat . Tapi berhubung rokok Gudang Garam Filter masih bisa dibeli eceran, Tejo pun ngurungin niatnya untuk gantung diri. Tejo sempat tersadar bahwa apa yang dicarinya bukanlah cinta seorang wanita melainkan rokok eceran.

Suatu hari Tejo dateng ke kostnya Partok, sohibnya yang jago ramal itu. Dengan muka dilipet enam belas, kaos belel dipadu dengan Blue jeans yang udah tiga bulan nggak dicuci, Tejo minta diramalin tentang kisah asmaranya dengan Surti. Sebenarnya Tejo ingin balik dengan surti, tapi Tejo sedikit nggak PD (bukan berarti banyak PD nya).

Alhasil, rasa itu terpendam sesaat dan bersaat-saat. Seperti itulah, rasa yang terpendam itu kalo gak meleleh ya meledak. Sama aja bukan?

“Tok, bantuin aku donk”

“Bantuin apa? Jawab Partok sambil menyalakan rokok (yang juga belinya eceran).

“Hmmmmm..”

“Masalah cewek yah?” Potong Partok.

“Iya nich” jawab Tejo sambil ngupil.

Saat itu juga jadilah Partok sang peramal dadakan merangkap penasehat spiritual yang nggak jelas eksistensinya, yang buka praktek kalo lagi Happy, dan perlu disuap dulu sebelum nyelidikin suatu kasus, maklum Partok termasuk tipe cowok setia.. (apa hubungan nya coba?)

Hari semakin sore dan gelap, diiringi lagu “terlena”nya Ikke nurjanah, ramalan berjalan demikian serius ampe berius-rius. Bahasa kartu makin tak menentu. Sudah puluhan kartu di bolak-balik tapi masih ketemunya jalan buntu. Semua jurus warisan pendekar syair berdarah udah dikeluarin. Lagi-lagi gak cukup walau dengan seribu puisi. Tejo yang punya masalah malah makin penasaran en pengen terus diramal.

Partok makin gerah aja. Keringat dingin mulai keluar dari jidatnya. “ini sich nyiksa namanya” geram Partok dalam hati. Mungkin karena Partok belum mandi, jurus pamungkasnya pun gak berkutik di hadapan kartu. Dua jam bahasa kartu masih juga tak menentu. Jelas gak ada juntrungannya kalo gini terus.

Akhirnya dengan segenap kemampuan yang ada dan segala upaya yang masih tersisa, Partok memanipulasi kartu demi mempercepat jalannya ramalan. Dengan sekejap kartu-kartu disusun dengan sedemikian rupa, lepas dari semua tekanan yang merugikan masyarakat, Partok merangkainya dengan indah.

Jadilah sudah jawaban palsu hasil dari ramuan maut ala misterius. Jawabannya pun cespleng, asli tokcer..(Pak Oles pun kalah tokcer), 99% fiktif belaka dan nggak bisa dipertanggungjawabkan di hadapan publik. Bla…bla…bla…

Kesimpulannya juga rekayasa dusta alias omong kosong. Partok bilang, “Harapan terbuka lebar (..selebar daun kelor ). Surti masih menyimpan rindu.”

Tejo tersenyum bahagia mendengar kalimat itu yang sebenarnya cuman khayalan semu. Tejo pun pulang dengan hati yang berbunga-bunga.

(Mungkin bersambung…)

(Sumber : elgibrany.blogsome.com)

 

Gubug Makan Mang Engking Bali Februari 9, 2010

Gubug Makan Mang Engking kini hadir di Denpasar, Bali.
Gubug Makan Mang Engking Bali adalah sebuah rumah makan yang bernuansa alam pedesaan di tengah – tengah hiruk pikuknya kota denpasar dan kuta, dengan arsitektur bangunan tradisional yang berciri khas sunda dikelilingi oleh kolam ikan yang luas,  yang menyajikan makanan khas Sunda dengan bahan – bahan yang segar.
Kami menyediakan udang hidup, gurame hidup dan kepiting hidup, cumi – cumi segar kami beli dari pasar ikan jimbaran dan sayur mayur segar kami datangkan dari bedugul setiap hari.
Pelayan – pelayan kami adalah pelayan – pelayan pilihan dan terlatih yang siap memberikan pelayanan kepada tamu – tamu kami dengan senyum yang ramah dan tepat waktu.
Gubug Makan Mang Engking Bali menjamin kepuasan setiap tamu-tamu dengan mengedepankan mutu pelayanan yang ramah, makanan dengan cita rasa yang tinggi dan enak, serta suasana makan yang nyaman.
Gubug Makan Mang Engking Bali bukan hanya sebuah Rumah Makan tapi juga tempat rekreasi yang sangat  nyaman dengan fasilitas yang lengkap, tersedia juga tempat main anak-anak dan tempat parkir yang luas.

Untuk itu, jangan lewatkan liburan anda, datang dan nikmati makan siang ataupun makan malam anda di Gubug Makan Mang Engking Bali.

**

Sekilas Tentang Pendirinya : Mang Engking Sodikin

Engking Sodikin (45) atau lebih dikenal Mang Engking, adalah pemilik dari Gubug Makan Mang Engking, sebuah rumah makan khas  pedesaan dengan nuansa alam dengan ciri gubug diatas kolam budidaya udang dan ikan air tawar. Mang Engking berasal dari Tasik Malaya, berawal dari kehidupan yang sederhana, di tahun 1996 Mang Engking dan keluarga hijrah ke Yogyakarta untuk mengembangkan keahliannya dalam bidang budidaya udang galah dan ikan air tawar. Keahlian tersebut didapatnya secara turun temurun dari keluarganya.
Sebelumnya dia memasarkan udang galah tersebut sebagai pasokan restoran dan hotel – hotel di Bali, tapi karena terjadi tragedi Bom Bali I, ia cukup sulit memasarkan udang galahnya masuk ke Bali.

Ketika berprofesi sebagai pembudidaya udang dan ikan air tawar, secara tidak sengaja banyak orang yang suka memancing ke kolam Mang Engking, mereka suka menghabiskan waktu hingga larut, sehingga banyak yang minta hasil pancingan mereka untuk dimasak oleh istri Mang Engking, dan pada akhirnya timbul gubug – gubug diatas kolam tersebut yang terkenal dengan sebutan Gubug Makan Mang Engking.

Saking banyaknya tamu-tamu yang ingin menikmati makan di Gubug Makan Mang Engking, maka Mang Engking membuka cabang di beberapa kota yang lain. Hingga kini Mang Engking sudah mempunyai 6 cabang, yaitu di Soragan-Yogyakarta, Pandaan – Jawa Timur, Depok – Jawa Barat, Cibubur – Jakarta, dan Denpasar – Bali.

Gubug Makan Mang Engking mempunyai standar tinggi terhadap Udang budidayanya, cita rasa yang tinggi terhadap menu-menu masakannya dan konsisten terhadap standar tinggi yang dipatoknya.

mangengking

 

PROFIL DARMANET Januari 29, 2010

Filed under: Uncategorized — darmanet @ 1:49 pm
Tags: , , , ,

Darma Internet – berdiri sejak tanggal 20 Januari 2010. Bermarkas di Jl. Gn. Batukaru no. 92 Monang-Maning Denpasar-Bali. Menyediakan 10 unit komputer yang dilengkapi dengan webcam disetiap komputer. Memiliki tempat duduk lesehan yang nyaman dan luas. Memanfaat kan akses internet yang cepat namun dengan tarif nya tetap terjangkau bagi berbagai lapisan dari yang kecil,muda sampai yang tua. Hanya dengan tarif Rp. 3000/ jam anda sudah dapat menggunakan layanan dari Darma Internet dengan puas. Silahkan datang ke Darma Internet dan nikmati sensasi yang beda dengan warnet-warnet yang lain.

 

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.