A Women Like You

SORE itu beberapa Mahasiswa masih asyik nongkrong di parkiran kampus. Ada yang lagi ngegosip, ngomong serius, curhat, ada juga yang lagi ngebahas masalah bangsa tentang ideologi, politik, sosial, budaya, pertahanan, keamanan dan fashion. Jam setengah enam sore, Tejo ama pacar barunya, Surti, asik haha-hihi di kantin kampus.

Tejo udah ngabisin 10 bungkus camilan sedangkan Surti cuman bengong ngeliatin si Tejo, “Pesen apa lagi, Jo?” tanya Surti.

“Apapun makanannya minumnya tetep, Botol Teh Sosro” jawab Tejo singkat.

Surti adalah mahasiswi Fakultas Hukum semester 4. Pertama kali kenal Tejo pas ada demo di pengadilan negeri. Waktu itu Tejo terpesona dengan gaya Surti yang cool abis waktu bacain tuntutan. Kebetulan sekali Tejo yang hari itu datang ke pengadilan buat nebus SIM ama STNK nya yang ditahan gara-gara kena tilang dua minggu sebelumnya di pos polisi di depan Matahari.

Tejo, mahasiswa Fakultas Ekonomi semester 6 itu pun, yang kelewat PD nya, kenalan ama Surti. Singkatnya, sesudah bayar 30.000 ke calo di pengadilan, SIM ama STNK nya come back. Tejo dan Surti pun saling terpesona.

***

Dua bulan sudah tejo dan Surti jadian. Masa-masa indah ternyata nggak berlangsung lama. Memasuki bulan ketiga, bulan yang manis pun berakhir. Kayaknya dua bulan waktu yang lebih dari cukup bagi Surti. Senin kemarin, Surti mutusin Tejo tanpa sebab yang jelas. Dan tentu keputusan Surti nggak bisa diganggu gugat. Tejo pun cuman bisa mengenang sang bidadari lewat kepulan asap Gudang Garam filternya yang tinggal sebatang.

Disaat Tejo menikmati sendirinya, pernah terpikir untuk gantung diri di bawah pohon tomat . Tapi berhubung rokok Gudang Garam Filter masih bisa dibeli eceran, Tejo pun ngurungin niatnya untuk gantung diri. Tejo sempat tersadar bahwa apa yang dicarinya bukanlah cinta seorang wanita melainkan rokok eceran.

Suatu hari Tejo dateng ke kostnya Partok, sohibnya yang jago ramal itu. Dengan muka dilipet enam belas, kaos belel dipadu dengan Blue jeans yang udah tiga bulan nggak dicuci, Tejo minta diramalin tentang kisah asmaranya dengan Surti. Sebenarnya Tejo ingin balik dengan surti, tapi Tejo sedikit nggak PD (bukan berarti banyak PD nya).

Alhasil, rasa itu terpendam sesaat dan bersaat-saat. Seperti itulah, rasa yang terpendam itu kalo gak meleleh ya meledak. Sama aja bukan?

“Tok, bantuin aku donk”

“Bantuin apa? Jawab Partok sambil menyalakan rokok (yang juga belinya eceran).

“Hmmmmm..”

“Masalah cewek yah?” Potong Partok.

“Iya nich” jawab Tejo sambil ngupil.

Saat itu juga jadilah Partok sang peramal dadakan merangkap penasehat spiritual yang nggak jelas eksistensinya, yang buka praktek kalo lagi Happy, dan perlu disuap dulu sebelum nyelidikin suatu kasus, maklum Partok termasuk tipe cowok setia.. (apa hubungan nya coba?)

Hari semakin sore dan gelap, diiringi lagu “terlena”nya Ikke nurjanah, ramalan berjalan demikian serius ampe berius-rius. Bahasa kartu makin tak menentu. Sudah puluhan kartu di bolak-balik tapi masih ketemunya jalan buntu. Semua jurus warisan pendekar syair berdarah udah dikeluarin. Lagi-lagi gak cukup walau dengan seribu puisi. Tejo yang punya masalah malah makin penasaran en pengen terus diramal.

Partok makin gerah aja. Keringat dingin mulai keluar dari jidatnya. “ini sich nyiksa namanya” geram Partok dalam hati. Mungkin karena Partok belum mandi, jurus pamungkasnya pun gak berkutik di hadapan kartu. Dua jam bahasa kartu masih juga tak menentu. Jelas gak ada juntrungannya kalo gini terus.

Akhirnya dengan segenap kemampuan yang ada dan segala upaya yang masih tersisa, Partok memanipulasi kartu demi mempercepat jalannya ramalan. Dengan sekejap kartu-kartu disusun dengan sedemikian rupa, lepas dari semua tekanan yang merugikan masyarakat, Partok merangkainya dengan indah.

Jadilah sudah jawaban palsu hasil dari ramuan maut ala misterius. Jawabannya pun cespleng, asli tokcer..(Pak Oles pun kalah tokcer), 99% fiktif belaka dan nggak bisa dipertanggungjawabkan di hadapan publik. Bla…bla…bla…

Kesimpulannya juga rekayasa dusta alias omong kosong. Partok bilang, “Harapan terbuka lebar (..selebar daun kelor ). Surti masih menyimpan rindu.”

Tejo tersenyum bahagia mendengar kalimat itu yang sebenarnya cuman khayalan semu. Tejo pun pulang dengan hati yang berbunga-bunga.

(Mungkin bersambung…)

(Sumber : elgibrany.blogsome.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s